August
31
Pedagang Mie Ayam dan Tukang Tambal Ban
“ Kalau bulan puasa begini, malamnya saya malah nggak bisa tidur meskipun capek dan ngantuk…” ujar seorang ibu pada di saya di sebuah masjid beberapa waktu yang lalu.
“Emang kenapa Mbak, sampai nggak nggak bisa tidur begitu?” tanya saya penasaran dengan Mbak berputra 4 yang selalu tampak ramah, semangat, sabar dan suka guyon ini.
“Lha gimana mau tidur, wong abinya belum pulang-pulang. Kalau Ramadhan begini dia kan pulang jualan sekitar jam 12 atau jam 1 malam. Kadang-kadang jam 2 baru datang. Saya cuma khawatir ada orang yang jahat sama dia. Namun Alhamdulillah sampai sekarang aman-aman saja. Lega rasanya kalau dia sudah sampai rumah lagi….”jawab Mbak yang masih menumpang di rumah ibunya meski anak pertamanya sudah berusia 10 tahunan.
“Ooooo….”
Suami teman saya ini seorang pedagang mie ayam keliling. Pada hari-hari biasa di luar Ramadhan, dia biasa mendorong gerobak mie ayamnya berkeiling wilayah kami dari agak siang sampai pukul 5 sore. Di sela-sela kerjanya itu, dia selalu menyempatkan sholat wajib di masjid yang dia singgahi. Begitu suara adzan terdengar memanggil.tanpa khawatir dia meminggirkan gerobaknya di dekat masjid dan bergegas untuk sholat berjama’ah. Bila jadwal taklim tiba (pukul 5 sore), biasanya dia segera pulang dan bersiap-siap untuk menuntut ilmu syar’i di sebuah masjid.
Nah, bila Ramadhan datang…’jam kerjanya’ ikut berubah. Dia hanya berjualan pada malam hari usai sholat tarawih. Mumpung Ramadhan, dia pun ingin ikut menciduk berkahnya. Berkah yang tidak hanya berupa materi (uang) namun juga berkah berupa ridha Allah, meningkatnya keimanan, bertambahnya ilmu akhirat, bertambahnya kebahagiaan hakiki dengan semakin mendekat pada-Nya, mendapat karunia pahala dan ampunan dari-Nya. Dia ingin menabung sebanyak-banyaknya demi masa depan akhiratnya karena dia tidak tahu bagaimana “nasib akhir”nya nanti, meski (tentu) selalu berharap mendapatkan akhir yang baik. Yang hanya bisa dia lakukan adalah berbekal, berbekal dan…berbekal.
Dia tidak pernah mau ketinggalan sholat tarawih berjama’ah sehari pun. Hatinya pun tidak merasa kecil melihat betapa banyak teman-teman seprofesinya sudah mulai berjualan sejak sore bahkan siang. Dia pun tak memungkiri, betapa mudahnya (dan betapa butuhnya dia ) mengeruk rupiah di bulan Ramadhan karena memang tingkat belanja masyarakat sangat meningkat di bulan ini. Namun ia sungguh yakin, Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan hamba-Nya yang mendekat kepada-Nya. Dia yakin Allah akan mengganti rizkinya ketika dia “mengorbankan waktunya” untuk menunaikan sunnah-Nya.
Betapa sangat yakinnya dia bahwa dia tak hanya membutuhkan kebahagiaan materi, namun juga kebahagiaan jiwa untuk menyempurnakan kebahagiaannya yang hakiki.
Dia hanya seorang pedagang mie ayam keliling, dengan penghasilan yang tak seberapa dibandingkan orang kantoran di gedung megah maupun pengusaha besar bermobil mewah. Rumahnya juga masih menumpang di mertua dengan segala resiko yang harus ditanggungnya (tau sendiri kan bagaimana rasanya hidup menumpang dan kurang disukai inangnya..), membiayai 2 orang anaknya di pondok dan 2 lainnya masih balita. Kendaraannya hanyalah sepeda butut, karena motor bututnya pun sudah dijual untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bila ingin memboyong keluarganya ke tempat taklim, dia akan mencari pinjaman motor kesana-kemari.
Meski demikian dia dan keluarganya selalu tampak ceria dan sabar. Jarang sekali bahkan hampir tak pernah ia berkeluh kesah memamerkan penderitaannya/masalah hidupnya bila sedang berkumpul dengan teman-temannya. Subhanallah….sedikit sekali orang seperti mereka ya ?
Dia hanyalah seorang pedagang kecil…..namun dia tahu sekali bagaimana meraih kebahagiaan sejati…..
Kisah berikutnya……
Laki-laki itu sudah tidak muda lagi. Setidaknya hal itu nampak pada kerutan di wajahnya dan beberapa lembar uban di rambutnya. Pekerjaannya sehari-hari adalah menambal ban. Orang biasa menyebutnya tukang tambal ban. Orangnya baik, ramah, tidak banyak omong dan penuh perhatian. Bahkan lapaknya dipakai sebagai tempat ngumpul para sopir angkot untuk istirahat dan “koordinasi” sesama sopir.
Dia juga senang dengan anak-anak, sehingga Mas Ganteng dan Dik Lucu pun senang padanya. Kadang-kadang (tapi jarang sekali), anak-anak ini menemani Pak Bengkel (begitu mereka menyebutnya) sedang bekerja sambil bertanya ini itu. Suatu saat Mas Ganteng bercerita, kalau ia mengajak Pak Bengkel sholat, tapi dia tidak mau.
“Aku suruh sholat Mi, tapi dia nggak mau…..katanya kalau ditinggal sholat, nanti tidak ada yang njagai-in pompanya. Pompanya tidak ada kuncinya, dia takut pompa itu ada yang mencuri…begitu katanya,” cerita Mas Ganteng sambil menyeruput jus tomat menu berbukanya.
Aih….kami sangat menyayangkan keengganannya sholat padahal dia orangnya baiiik dan sudah agak tua.
“Pak Bengkel diajak sholat, Mas…..”pesen abinya Mas Ganteng supaya dia tidak bosan mengajak Pak Bengkel sholat.
Entah apa alasan sesungguhnya dia tidak mau sholat. Barangkali juga pengaruh teman-temannya yang suka ikutan nongkrong di lapaknya. Bukannya su’udhzan, karena memang mereka tetap suka nongkrong meski waktu sholat telah lewat. Bahkan suatu hari saya menyaksikan sendiri ketika mereka sedang nongkrong, kemudian lewatlah salah satu kenalan mereka hendak pergi sholat Jum’at ke masjid. Salah satu nongkrong-er (betul ya istilahnya?^^) nyeletuk dengan bahasa Jawa campuran Madura,” Tumben kamu sholat Jum’at, wong biasanya lho kamu tidak sholat. Kalau kami sih memang tidak perlu sholat-sholat segala…..” dan seterusnya, pokoknya kata-katanya memerahkan telinga deh.
Bagaimana saya tidak tahu….wong bengkelnya ada di depan rumah kami je !
Eman-eman bener ya…orang Islam tapi tidak sholat….bagaimana nanti nasibnya di akhirat??? Sementara di tampat lain, ada manusia yang dalam keadaan sakit berat namun bersusah-payah mengerjakan sholat semampu dirinya demi masa depan akhiratnya….
Wallahu a’lam.
Semoga Allah memberi hidayah kepada Pak Bengkel dan siapa saja yang masih meninggalkan dan melalaikan sholatnya. Amiin. Dan juga kepada kita semua kaum muslimin supaya senantiasa istiqomah dengan keislaman kita. Amiin.


August 31st, 2010 at 14:00
ehiks…>.<
sedih membacanya..terharu..T.T
akhirnya bisa mampir ke blog mba des yang manis ini… <3
[Reply]
desi Reply:
September 4th, 2010 at 06:09
g sibuk banget ya Dik? Makasih sudah disambangi..
[Reply]
August 31st, 2010 at 14:01
pertamaxxxxxx…^_^
horrayyyyyyy
[Reply]
desi Reply:
September 4th, 2010 at 06:07
halaah senenge…^_^
[Reply]
September 1st, 2010 at 03:01
hidayah hanyalah milik Allah, namun tugas kita jualah untuk merengkuh dan memeluknya.
[Reply]
desi Reply:
September 4th, 2010 at 06:06
betul mbak..
[Reply]
September 1st, 2010 at 15:59
saya selalu belajar dari kegigihan mereka dalam menjalankan hidup juga dari iman mereka yang nyatanya lebih baik dari kita yang berkecukupan ^^ nice post kawan banyak manfaat yang dapat diambil dari cerita ini
[Reply]
desi Reply:
September 4th, 2010 at 06:05
maturnuwun…
[Reply]
September 2nd, 2010 at 08:55
banyak banget kisahnya dah
hehe
mantap
[Reply]
desi Reply:
September 4th, 2010 at 06:04
makasih…sampe benger ya bacanya??^^
[Reply]
September 4th, 2010 at 09:15
hmmm, cerinya bgs…smg yg membc bs ambil hikmahnya ya..sukses!
[Reply]
desi Reply:
September 9th, 2010 at 07:52
makasih Mbak Tiwi…
[Reply]
September 4th, 2010 at 11:40
kisahnya bnr2 menyentuh bgt sob…
emang sih… tak jrg org yg kaya tp gak bahagia.
mlh org yg hidup pas2n justru yg bs merasakan bahagia…
[Reply]
desi Reply:
September 9th, 2010 at 07:52
ya betul bgt…
[Reply]
September 6th, 2010 at 08:44
Subhanallah… 2 kisah yang berbeda…
Hmm… semangat beribadah tukang mi ayam itu sangat patut ditiru…
Jadi miris melihat diri sendiri :(
[Reply]
desi Reply:
September 9th, 2010 at 07:45
smg tmbh semangat ya…
[Reply]
September 6th, 2010 at 10:10
Wah, Mbak Desy Rumah baru :)
Sedih dan terharu membacanya. Apalagi si tukang mie. Dengan rasa lelah yang tak tertahankan, tapi masih sempat untuk melaksanakan kewajiban ibadah kepada Allah SWT. Padahal sekarang ini, banyak sekali manusia yang lupa dan leka karena saking sibuknya mengejar harta dunia.
[Reply]
desi Reply:
September 9th, 2010 at 07:51
hehehe ..iya nih ^^
Betul sekali kata Ifan
[Reply]
September 8th, 2010 at 14:39
ngaku islam tapi tidak mengerjakan segala kewajibannya,,
repot….
paling mentok ya dosa dan masuk neraka
semoga yang nulis komen ini juga segera sadar
amin
hehehe
[Reply]
desi Reply:
September 9th, 2010 at 07:37
Amiin
[Reply]
September 15th, 2010 at 14:32
pasti bahagia bgt keluarga mas penjual mie ayam itu yah mbak,walo kekurangan, tapi pasti allah membahagiakn mereka sekeluarga..
semoga pak bengkel diberi hidayah ma Allah..amiin..
[Reply]
September 17th, 2010 at 20:03
Met Idul Fitri…
Mohon maaf lahir batin ya… :)
[Reply]
desi Reply:
October 6th, 2010 at 06:55
sama2, makasih mbak
[Reply]